Konstruksi jembatan suramadu

Konstruksi jembatan suramadu

Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan.

Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura.
Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga pondasi pipa baja berdiameter 60 cm.
Jembatan penghubung atau approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter.
Jembatan penghubung ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter 180 cm.
Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter.
Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter.
Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut.

Upah Tukang Bangunan

Upah Tukang Bangunan

Biaya Upah Gaji Tukang Bangunan

Berikut daftar upah pekerja (tukang) bangunan. Bisa digunakan sebagai patokan saja walaupun di beberapa daerah ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Revisi 2011

Mandor Rp. 85.000,-/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Gali Rp. 60.000/orang/hari (7jam)

Tukang Gali Tanah Rp. 50.000/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Batu Rp. 75.000/orang/hari (7jam)

Tukang Batu Rp. 55.000/orang/hari (7jam)

Tukang Batu setengah terampil Rp. 45.000/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Kayu Rp. 85.000 /orang/hari (7jam)

Tukang Kayu Rp. 60.000/orang/hari (7jam)

Tukang Kayu setengah terampil Rp. 50.000/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Besi Rp. 75.000/orang/hari (7jam)

Tukang besi terampil Rp. 60.000/orang/hari (7jam)

Tukang besi setengah terampil Rp. 50.000/orang/hari (7jam)

Kepala tukang cat Rp. 85.ooo/orang/hari (7jam)

Tukang cat terampil Rp. 55.000/orang/hari (7jam)

Tukang cat setengah terampil Rp. 50.000/orang/hari (7jam)

Pembantu tukang Rp. 45.000/orang/hari (7jam)

Menghitung RAB

Cara Cepat Menghitung RAB

Sebelum memulai renovasi/membangun rumah/ruko/dll, harus dipersiapkan RAB /rencana anggaran biayanya. Dengan perencanaan yang matang maka bisa diharapkan waktu pengerjaan bisa tepat dan biayapun tidak meleset jauh.Sebetulnya, cara untuk menghitung biaya sangat mudah anda tinggal mengalikan volume pekerjaan dengan harga satuannya. Namun untuk anda yang tidak berlatar belakang arsitek/sipil ada kendala2 tersendiri.


pipa HDPE

Instalasi air bersih dengan pipa HDPE

Pipa hdpe digunakan untuk instalasi air bersih. Pipa hdpe tersedia dari ukuran 20mm sampai dengan 1200mm, pipa hdpe mempunya tingkat flexible yang tinggi sehingga pipa hdpe bisa mengikuti struktur tanah. jika stuktur tanah berubah, maka pipa hdpe tidak akan putus.Dengan karakteristik yaqng istimewa, memungkinkan Pipa HDPE dapat digunakan dalam kondisi yang bervariasi untuk mengalirkan air.

KARAKTERISTIK PIPA HDPE
1. Memiliki Flexibilitas yang tinggi ( kekuatan tensil > 22 mPa dan elastis > 700% )
2. Memiliki ketahanan akan temperatur rendah bahkan temperatur air baku
3. Memiliki kemampuan dalam menahan benturan ( impact strength)
4. Ringan ( mengapung di air) dengan densitas = 0, 94 gr/ cm3, sehingga mudah dalam penanganan dan transportasi
5. Metode penyambungan yang cepat dan mudah
6. Tahan terhadap korosi dan abrasi
7. Permukaan halus, akan meminimalisasi hilangnya tekanan
8. Jangka waktu pemakaian 50 tahun

Pada prinsipnya penyambungan pipa HDPE untuk ukuran berapapun adalah sama prosedurnya, yaitu:
1. Menyiapkan pipa HDPE yang akan disambung.
2. Meratakan ujung-ujung kedua pipa dengan cara diraut (scraping). Sampai benar-benar bersih dan rata kedua ujungnya.
3. Persiapan lembar/piring pemanas (hot plate), pastikan temperaturnya sudah rata pada setiap sisi bagian hot plate.
4. Pemanasan kedua ujung pipa hingga waktu yang ditentukan.
5. Penyambungan dengan tekanan hydrolik sesuai tabel pipa.
6. Cooling time, mohon dipatuhi agar hasilnya sempurna.
7. Selesai



Pengujian Pipa
Ada dua hal yang harus dilakukan dalam pengujian ini yaitu uji tekanan dan uji kebocoran pipa itu sendiri, keduanya bisa dilakukan bersamaan atau terpisah. Adapun syarat yang harus dipenuhi sebelum dilakukan test adalah :
1. Semua katub (valve), sambungan (joint) sudah terpasang
2. Katub (valve), sumbat, harus dalam keadaan tertutup.
3. Sebaiknya pengujian dilakukan perbagian pipa setiap panjang 500 meter (tidak seluruh panjang pipa)
4. Pipa yang akan diuji harus dibilas dengan air bersih, dan kemudian diisi air perlahan-lahan agar tidak meninggalkan udara.
5. Akan lebih mudah sebelum dilakuakan pengetesan, pipa tidak diurug terlebih dahulu (agar lebih mudah mencari sumber kebocorannya)

Prinsip dari pengujian ini adalah :
1. Uji tekanan : jaringan pipa dapat menerima tekanan sebesar 1.5 kali besarnya tekanan kerja, atau lebih besar lagi, asal tidak melebihi tekanan yang diijinkan untuk katub/valve, dan dilaksanakan sedikitnya 2 Jam.Yaitu dengan memberikan tekanan pada pipa HDPE yang telah diisi penuh dengan air.Pipa HDPE ditekan (lihat nano meter) sampai 9 bar dan terakhir sampai 10 bar.
2. Uji Kebocoran : seharusnya pipa yang ”lulus” uji ini adalah yang sama sekali tidak bocor, namun atas pertimbangan pipa baru, air mengisi sela-sela asesoris, dls, maka ditetapkan kriteria kebocoran yaitu : banyaknya air yang ditambahkan ke dalam jaringan perpipaan selama dilakukan test (biasanya dalam satu jam).


sumber: dari berbagai sumber

Perencanaan struktur dan RAB

Perencanaan struktur dan RAB

Semakin pesatnya perkembangan dunia infrastruktur di tanah air membuat kita dituntut untuk menciptakan sumber daya manusia yang mendukung kemajuan dalam bidang ini. Dengan sumber daya manusia yang berkwalitas kita akan dapat memenuhi tuntutan ini dan siap menghadapi tantangan dalam dunia struktur dan segala macam permasalahannya, untuk itu diperlukan ilmu perencanaan struktur dan analisa RAB yang matang.


Download

Dinding Atau Kolom


Dinding Atau Kolom?

Ini adalah ilmu yang paling mantap yang pernah saya peroleh di tempat kerja saya yang pertama. Dalam sebuah diskusi, sang direktur bertanya kepada semua engineer, sebuah pertanyaan dasar, “What’s the different between column and wall?“. Beberapa orang memberikan jawaban sesuai keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Ada yang menjawab, “Column is intended to carry axial load, while lateral load dipikul ama wall“. Ternyata jawabannya kurang tepat.
Sebelum saya kasih tau jawabannya, ada kasus lain. Misalnya anda ketemu komponen struktur seperti gambar di bawah ini..
3dframe
pertanyaanya adalah.. struktur yang vertikal itu… kolom atau dinding?
Mungkin ada yang jawab dengan bermacam-macam istilah yang diberi bumbu, misalnya… kolom tipis, kolom langsing (ini tentu kurang tepat, walopun kita tau maksutnya), malah ada yang jawab itu adalah dinding pendek.
Nah, sebagai teknisi alias engineer, kita tidak perlu nebak-nebak lagi itu kolom atau dinding. Kalau saya disuguhi pertanyaan seperti itu, maka saya akan jawab “tidak tahu”. Saya harus tau dulu tulangannya seperti apa, baru saya bisa jawab itu kolom atau dinding.

That’s it! Perbedaan kolom dan dinding ada pada penulangannya. Mari kita tengok pelan-pelan.


Beton kuat menahan gaya tekan. Jika beton ditekan hingga mencapai kuat tekannya, maka beton itu akan hancur.
Tulangan baja mempunyai kuat tekan dan tarik yang jauh lebih besar daripada beton. Taruhlah beton mempunyai range kuat tekan rata-rata di antara 20 – 40 MPa (kira-kira 200-400 kg/cm2), sementara baja mencapai 240 MPa (2400 kg/cm2) untuk tulangan polos dan 400 MPa (4000 kg/cm2) untuk tulangan ulir. Tapi… luas penampang baja jauh lebih kecil sehingga kapasitas tekannya juga tidak akan sebesar kapasitas tekan beton.
Secara kasar bisa dibilang gini, setiap penambahan 1% luas tulangan terhadap luas beton, kapasitas aksial tekannya bisa ditingkatkan hingga 10%. Misalnya, ada kolom beton pendek ukuran 20cmx20cm, luasnya 400 cm2, dan kapasitas tekannya katakanlah 80000 kg (80 ton), kemudian ditambahkan tulangan seluas 4 cm2 (1%), maka kapasitas tekannya bisa mencapai 88 ton. Tapi… ada kondisi khusus yang harus dipenuhi agar tulangan bisa memberikan kontribusi sebesar itu.
Nah… coba kita simak simulasi berikut.
Ada kolom beton tanpa tulangan, diberi beban hingga beton tersebut hancur.

Di sisi lain, ada 4 buah tulangan pendek, posisi berdiri, bagian bawah dijepit, kemudian diberi beban di atasnya. Apa yang terjadi?

Tulangan tersebut tertekuk, bengkok, dan jatuh. Padahal bebannya tidak terlalu besar.
Sekarang… tulangan tersebut kita tanam ke kolom beton sebelumnya, tapi nggak pake sengkang. Trus, diberi beban lagi. Apa yang terjadi?

Tulangan tersebut akan berusaha untuk bengkok. Kalo menekuk ke arah dalam tentu susah karena isinya beton semua. Yang paling mungkin adalah menekuk ke arah luar, selimut beton lebih mudah didorong keluar.
Bagaimana caranya agar tulangan tersebut tidak berhamburan menekuk ke luar? Tulangan tersebut harus dikekang, diikat oleh sesuatu. (sesuatu banget…)
Apakah itu juragan?
Itu adalah sengkang alias ties. Tulangan tersebut harus diikat pada setiap jarak tertentu biar dia tidak menekuk ketika diberi beban tekan yang besar. Malah kalau bisa… tulangan tersebut harus bisa menahan tekanan/tegangan hingga mencapai tegangan lelehnya! Semakin rapat jarak sengkang, semakin besar kapasitas tekan tulangan tersebut.

Diberi beban yang sangat besar pun tulangan tersebut akan tetap berada pada posisinya sampai kolom itu runtuh (collapse).


Jadi, itulah sebenarnya fungsi utama dari sengkang kolom. Sebagai pengikat (ties) dan pengekang (confinement). Kalaupun ada gaya geser akibat beban lateral, perhitungannya sama kok dengan hitungan sengkang pada balok.

Nah.. sekarang.. mari kita intip penulangan wall alias dinding.
Dinding punya dua tulangan, tulangan vertikal dan horizontal. Tulangan vertikal sama fungsinya dengan tulangan vertikal pada kolom.
Tapi… tulangan horizontal… itu yang menjadi masalah.

Tulangan horizontal pada dinding tidak bisa memberi efek kekangan pada tulangan vertikal. Waktu memikul beban aksial, tulangan vertikal akan cenderung mendorong/mendesak tulangan horizontal. Sementara kedua ujung tulangan horizontal nggak ada yang nahan. Akhirnya…gagallah dinding tersebut.

Ceritanya bakal beda kalau tulangan horizontalnya diubah modelnya menjadi sistem ties/sengkang seperti gambar di bawah.

Coba perhatikan, sengkang terluar akan memberikan efek kekangan pada keseluruhan tulangan vertikal. Sementara sengkang tambahan yang kecil-kecil itu, akan memberikan tahanan ke arah samping, jadi tulangan vertikal nggak bisa bergerak bebas (menekuk) ke arah samping.
Jadi…. kata kunci dari pertanyaan di atas adalah… CONFINEMENT… alias kekangan pada tulangan vertikal. Itulah yang membedakan antara kolom dengan dinding. Kolom mempunyai kekangan pada semua tulangan vertikalnya, sementara dinding tidak. Itulah sebabnya kapasitas aksial tekan kolom lebih besar daripada kapasitas aksial dinding dengan ukuran dan penulangan vertikal yang sama.
Oiya… satu lagi. Apa sebenarnya istilah yang tepat untuk kolom yang penampangnya tipis seperti gambar pertama di atas? Saya belum tau apakah di SNI atau ACI pernah nyebut… tapi di Australian Standard, mereka menyebutnya dengan istilah… Blade Wall, yaitu kolom tapi tidak mempunyai confinement alias perilakunya mirip dengan wall. :)
Semoga bermanfaat.
by : http://duniatekniksipil.web.id/1190/dinding-atau-kolom/

Cara Menghitung Luas atap baja ringan

Cara Menghitung Luas atap baja ringan

Cara Menghitung Luas rangka atap baja ringan adalah menggunakan luas permukaan miring, dimana luas rangka atap baja ringan telah meliputi oversteck dan kemiringan atap.Cara perhitungan tergantung bentuk atap rumah, karena bentuk atap berkaitan dengan luas dari atap tersebut.
Dengan cara penghitungannya sbb:
Misal:
  • Panjang : 12 m
  • Lebar     : 6 m
  • oversteck : 0.60 m
  • kemiringan atap: 30 derajat (cosinus 30 = 0.8660)
  • bentuk atap limas (jatuh air ke empat sisi) dengan oversteck keliling ( depan, belakang, kanan,kiri )
Menentukan luas datar:
Luas Datar = (Panjang + oversteck) x (lebar + oversteck)
= (12+0.6+0.6) x (6+0.6+0.6)
= 13.2 x 7.2
= 95.04 M2
Menentukan Luas miringnya:
Luas Miring = Luas datar / cosinus kemiringan atap
= 95.04 / 0.8660
= 109.75 M2
Maka Luas Rangka atap Baja ringannya adalah = 109.75 M2