Harga bahan bangunan 2014


Harga bahan bangunan 2014
harga terbaru, daftar harga bahan bangunan / Price list  material bahan bangunan terbaru / ter update tahun  2014, 2016, 2017 di berbagai wilayah
Daftar Bahan bangunan utama yang sering digunakan sebagai material dalam proses pembangunan antara lain:


    Semen Rp. 50.000 / zak
    Pasir pasang Rp. 125.000 /m3
    Batu kali  Rp.140.000 /m3
    Kerikil Rp. 150.000/m3
    Kayu Rp. 2.200.000 /m3
    Besi bangunan Rp. 8.000/kg
    Profil baja Rp.11.000/kg
    Keramik Rp. 50.000/dus.
    Genteng Rp. 1.600/bh
    Batu bata Rp. 600/bh.
    Batako Rp.3.000/bh.
    Triplek Rp. 70.000/lembar.
    Paku Rp 12.000./kg.
    Asbes Rp. 65.000/lembar.
KALAU MAU HARGA PASTI YA DATANG AJA KE TOKO BANGUNAN terdekat kita tidak melayani penjualan online
Daftar harga bangunan yang dibutuhkan untuk menghitung rencana anggaran biaya bangunan tersebut harus di update setiap saat sehingga didapatkan lis harga terbaru guna menghitung perkiraan biaya pembangunan secara tepat.. Tentunya, harga di setiap toko berbeda satu dengan yang lain, karena supplier dan distributor juga berbeda. Untuk lebih jelasnya, silahkan mengunjungi toko material untuk mendapatkan katalog bahan bangunan.
Berhubung jumlah bahan-bahan bangunan itu banyak, sehingga tidak memungkinkan untuk memberikan semua informasi harganya untuk Anda. Untuk itu, di sini kita akan memberikan  daftar harga bahan bangunan terutama yang pokok-pokok sebagai referensi Anda.
Akhirnya anda melakukan pencarian Daftar harga bahan bangunan, Berikut Daftar harga bahan bangunan...
HARGA BISA BERUBAH SEWAKTU WAKTU ( harga tergantung tempat,lokasi,kondisi,situasi )
Price list / daftar harga bahan bangunan tersebut bersumber dari salah satu toko bangunan
Kegiatan pembangunan sebuah proyek bangunan memerlukan perencanaan yang matang dari segi rencana anggaran biaya bangunan yang untuk menghitungnya dibutuhkan pengetahuan tentang harga bangunan terbaru, berbagai cara dapat dilakukan untuk mendapatkan data ini. Daftar harga bahan bangunan tahun 2013, 2014, 2015, 2016, 2017dapat dilihat dengan berbagai cara antara lain:

Survey toko bahan bangunan aja
Jalan-jalan ke toko bahan bangunan sambil membuat daftar bahan bangunan merupakan sebuah hal yang mengasikan bagi yang menyukainya misalnya bagi beberapa karyaan kontraktor yang berprofesi sebagai logistik maka perlu membuat daftar harga bahan bangunan secara update, namun kehadiran teknologi informasi telah memudahkan prosess survey harga di toko bahan bangunan ini menjadi lebih singkat karena dapat dilakukan melalui telpon ke beberapa suplier bahan bangunan atau browsing di internet untuk menemukan lis harga material yang dibutuhkan.

JENIS PONDASI TIANG FRANKY PELAKSANAAN PEKERJAAN PONDASI TIANG BETON COR DI TEMPAT ( Cast in Situ )

PELAKSANAAN PEKERJAAN
PONDASI TIANG BETON COR DI TEMPAT ( Cast in Situ )
JENIS PONDASI TIANG FRANKY

Teknik Pondasi adalah suatu upaya teknis untuk mendapatkan jenis dan dimensi pondasi bangunan yang efisien, sehingga dapat menyangga beban yang bekerja dengan baik. Jenis pondasi yang digunakan dalam suatu perencanaan bangunan tergantung dari jenis tanah dan beban yang bekerja pada lokasi rencana proyek. Pondasi didesain agar memiliki kapasitas dukung dengan penurunan / settlement tertentu, desain utamanya mempertimbangkan penurunan dan daya dukung tanah, dalam beberapa kasus semisal turap, defleksi / lendutan pondasi juga diikutkan dalam perteimbangan. Ketika berbicara penurunan, yang diperhitungkan biasanya penurunan total(keseluruhan bagian pondasi turun bersama-sama) dan penurunan diferensial(sebagian pondasi saja yang turun / miring). Ini dapat menimbulkan masalah bagi struktur yang didukungnya.
Daya dukung pondasi merupakan kombinasi dari kekuatan gesekan tanah terhadap pondasi( tergantung pada jenis tanah, massa jenisnya, nilai kohesi adhesinya, kedalamannya, dsb), kekuatan tanah dimana ujung pondasi itu berdiri, dan juga pada bahan pondasi itu sendiri. Dalamnya tanah serta perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya amatlah sulit dipastikan, oleh karena itu beban yang bekerja dibatasi, biasanya sepertiga dari kekuatan desainnya.
Beban yang bekerja pada suatu pondasi dapat diproyeksikan menjadi:
  • Beban Horizontal/Beban Geser, contohnya beban akibat gaya tekan tanah, transfer beban akibat gaya angin pada dinding.
  • Beban Vertikal/Beban Tekan dan Beban Tarik, contohnya:
      - Beban Mati, contoh berat sendiri bangunan
      - Beban Hidup, contoh beban penghuni, air hujan dan salju
      - Gaya Gempa
      - Gaya Angkat Air (Lifting Force)
Pondasi tiang pancang (pile foundation) adalah bagian dari struktur yang digunakan untuk menerima dan mentransfer (menyalurkan) beban dari struktur atas ke tanah penunjang yang terletak pada kedalaman tertentu, tujuan dari pondasi tiang adalah :
- untuk menyalurkan beban pondasi ke tanah keras
- untuk menahan beban vertical, lateral, dan beban uplift
Struktur yang menggunakan pondasi tiang pancang apabila tanah dasar tidak mempunyai kapasitas daya pikul yang memadai. Kalau hasil pemeriksaan tanah menunjukkan bahwa tanah dangkal tidak stabil & kurang keras atau apabila besarnya hasil estimasi penurunan tidak dapat diterima pondasi tiang pancang dapat menjadi bahan pertimbangan. Lebih jauh lagi, estimasi biaya dapat menjadi indicator bahwa pondasi tiang pancang biayanya lebih murah daripada jenis pondasi yang lain dibandingkan dengan biaya perbaikan tanah. Dalam kasus konstruksi berat, kapasitas daya pikul dari tanah dangkal tidak akan memuaskan,dan konstruski seharusnya di bangun diatas pondasi tiang. Tiang pancang juga digunakan untuk kondisi tanah yang normal untuk menahan beban horizontal. Tiang pancang merupakan metode yang tepat untuk pekerjaan diatas air, seperti jetty atau dermaga.
Dalam tugas ini akan dibahas tentang pondasi tiang beton, khususnya pondasi tiang beton cor di tempat ( cast in situ ). Pondasi tiang beton cast in situ pada prinsipnya adalah lubang dibuat dalam tanah dan baru dilakukan pengecoran. Ada tiga tipe pondasi cast in situ,yaitu:
1.      Tiang beton tanpa kulit baja
2.      Tiang beton dengan kulit baja
3.      Tiang ulir
Dalam tugas ini akan membahas tipe tiang beton tanpa kulit baja. Penggunaan tiang beton tanpa kulit baja didasarkan pada  dua keadaan tanah di lapangan, yaitu:
a.       Jenis tanah dasar fondasi tidak mudah runtuh
Dengan kondisi tanah seperti ini biasanya digunakan pondasi tipe Strausz. Secara umum pelaksanaan pondasi Strausz adalah, mula-mula dibuat lubang ke dalam tanah, kemudian tanah dikeluarkan dari dalam lubang tersebut. Lalu tulangan dimasukkan dan selanjutnya dilakukan pengecoran. Untuk mengurangi volume beton, dimasukkan geotekstil ke dalam lubang bor untuk melapisi bidang kontak antara tiang dan tanah sebelum tiang dicor.
b.      Jenis tanah dasar fondasi mudah runtuh
Jika kondisi tanah dasar pondasi seperti ini dapat digunakan pondasi jenis Franki. Secara umum pelaksanaannya adalah, pipa baja yang terbuka ujungnya dan dipancang ke dalam tanah. Kemudian tanah di dalam pipa dikeluarkan lalu tulangan pondasi dimasukkan. Bersamaan dengan pelaksanaan pengecoran beton, pipa baja dicabut. Metode lain jika ukuran tiang kecil, dapat digunakan sepatu dibagian ujung tiang, sehingga tidak diperlukan usaha untuk mengeluarkan tanah dari dalam pipa. Pada waktu pelaksanaan pengecoran, pipa baja dicabut dan bagian sepatu tertinggal di dalam tanah.
Pondasi tiang beton digunakan untuk bangunan tinggi (high rise building) dengan pelaksanaan sebagai berikut :
  1. Melakukan pemetaan dan test untuk menentukan kedalaman tanah keras dan klasifikasi panjang tiang pancang sesuai pembebanan yang telah diperhitungkan.
  2. Melakukan pengeboran tanah dengan mesin pengeboran.
  3. Melakukan perakitan tulangan pondasi yang sudah di desain.
  4. Melakukan pengecoran di lubang yang sudah terdapat tulangan pondasi.
Pekerjaan pondasi umumnya merupakan pekerjaan awal dari suatu proyek. Oleh karena itu yang penting adalah dilakukan pemetaan terlebih dahulu. Proses ini sebaiknya sebelum alat-alat proyek masuk, karena kalau sesudahnya susah  untuk  melakukan ‘nembak’ titik lokasi pondasi. Dari pemetaan ini maka dapat diperoleh suatu patokan yang tepat antara koordinat pada gambar kerja dan kondisi lapangan. Pekerjaan pondasi tiang bor memerlukan alat-alat berat pada proyek tersebut. Disebut alat-alat berat memang karena bobotnya alat yang berat, oleh karena itu manajer proyek harus dapat memastikan perkerjaan persiapaan apa yang diperlukan agar alat yang berat tersebut dapat masuk ke areal dengan baik.

 




Excavator mempersiapkan areal proyek agar alat-alat berat yang lain bisa masuk.
Di suatu lokasi proyek dapat terjadi hal-hal yang diluar perkiraan mengenai kondisi tanah, untuk menghindari amblesnya alat-alat berat tadi maka diperlukan pelat baja. Pelat baja tersebut dimaksudkan agar alat-alat berat tidak ambles jika kekuatan tanahnya diragukan. Jika sampai ambles, untuk mengangkat alat saja biayanya lebih besar dibanding biaya yang diperlukan untuk mengadakan pelat-pelat tersebut.


Paralel dengan pekerjaan persiapan, maka pembuatan penulangan tiang bor telah dapat dilakukan. Ini penting, karena jangan sampai jika sudah dibor ternyata tulangannya belum siap. Jika tertunda lama, tanah pada lubang bor bisa rusak (mungkin karena hujan atau lainnya). Jika hal itu terjadi perlu dilakukan pengerjaan bor lagi. Pemilihan tempat untuk merakit tulangan tidak boleh terlalu jauh, masih terjangkau oleh alat-alat berat tetapi tidak boleh sampai mengganggu manuver alat-alat berat itu sendiri.




Pekerjaan penulangan pondasi tiang bor
Jenis pondasi yang digunakan dalam pembahasan ini adalah pondasi Franki, tipe Franki dipilih karena tanah dasar pondasi mudah runtuh. Franki mempunyai khas dibagian bawahnya membesar. Diameter pondasi bisa mencapai 1 m lebih, kedalaman pondasi adalah sampai tanah keras ( SPT 50 ).
Berikut adalah contoh desain pondasi Franki :





Dalam melakukan pengeboran diperlukan crane atau excavator tersendiri, karena mesin bor-nya terpisah.
Proses pengeboran merupakan proses awal dimulainya pengerjaan pondasi tiang bor, kedalaman dan diameter tiang bor menjadi parameter utama dipilihnya alat-alat bor. Juga terdapatnya batuan atau material dibawah permukaan tanah. Ini perlu diantisipasi sehingga bisa disediakan metode, dan peralatan yang cocok.
Setelah pengeboran selesai dan mencapai suatu kedalaman yang ‘mencukupi’, untuk menghindari tanah di tepi lubang berguguran maka perlu di pasang casing, yaitu pipa yang mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama dengan diameter lubang bor.
pada prinsipnya cara pemasangan casing sama: diangkat dan dimasukkan pada lubang bor. Tentu saja kedalaman lubang belum sampai bawah, secukupnya. Kalau menunggu sampai kebawah, maka bisa-bisa tanah berguguran semua. Lubang tertutup lagi. Jadi pemasangan casing penting. Setelah casing terpasang, maka pengeboran dapat dilanjutkan, mata auger diganti dengan Cleaning Bucket yaitu untuk membuang tanah atau lumpur di dasar lubang.
 



Jika pekerjaan pengeboran dan pembersihan tanah hasil pengeboran dan akhirnya sudah menjadi kondisi tanah keras. Maka untuk sistem pondasi Franky Pile maka bagian bawah pondasi yang bekerja dengan mekanisme bearing dapat dilakukan pembesaran. Untuk itu dipakai mata bor khusus, Belling Tools.



Cleaning Bucket dan Belling Tools
setelah beberapa lama dan diperkirakan sudah mencapai kedalaman rencana maka perlu dipastikan terlebih dahulu apakah kedalaman lubang bor sudah mencukupi, yaitu melalui pemeriksaan manual.
Perlu juga diperhatikan bahwa tanah hasil pemboran perlu juga dichek dengan data hasil penyelidikan terdahulu. Apakah jenis tanah adalah sama seperti yang diperkirakan dalam menentukan kedalaman tiang bor tersebut. Ini perlu karena sampel tanah sebelumnya umumnya diambil dari satu dua tempat yang dianggap mewakili. Tetapi dengan proses pengeboran ini maka secara otomatis dapat dilakukan prediksi kondisi tanah secara tepat, satu persatu pada titik yang dibor.Apabila kedalaman dan juga lubang bor telah siap, maka selanjutnya adalah penempatan tulangan rebar.


Jika pemasangan tulangan telah selesai, maka lubang bor siap untuk di cor
Setelah proses pemasangan tulangan baja maka proses selanjutnya adalah pengecoran beton. Ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi. Meskipun proses pekerjaan sebelumnya sudah benar, tetapi pada tahapan ini gagal maka gagal pula pondasi tersebut secara keseluruhan. Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi benar dengan beton, misalnya ada yang bercampur dengan galian tanah atau segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi bagian yang tidak tepat. Adanya air pada lobang bor menyebabkan pengecoran memerlukan alat bantu khusus, yaitu pipa tremi. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama atau lebih besar dengan kedalaman lubang yang dibor.
Ujung di bagian bawah agak khusus , tidak berlubang biasa tetapi ada detail khusus sehingga lumpur tidak masuk kedalam tetapi beton di dalam pipa bisa mendorong keluar.
Setelah pipa tremi berhasil dimasukkan ke lubang bor. Perhatikan ujung atas yang ditahan sedemikian sehingga posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh. Corong beton dipasang. Pada kondisi pipa seperti ini maka pengecoran beton siap. Truk readymix siap mendekat
Karena pipa tremi tadi perlu dicabut lagi. Jadi kalau beton yang dituang terlalu banyak maka jelas mencabut pipa yang tertanam menjadi susah. Sedangkan jika terlalu dini mencabut pipa tremi, sedangkan beton pada bagian bawah belum terkonsolidasi dengan baik, maka bisa-bisa terjadi segresi, tercampur dengan tanah. Oleh karena itu dalam proses ini diperlukan pengalaman yang benar-benar handal agar tidak terjadi kesalahan sedikitpun. Jika beton yang di cor sudah semakin ke atas (volumenya semakin banyak) maka pipa tremi harus mulai ditarik ke atas, karena pengecoran beton masih diteruskan maka diperlukan bucket karena beton tidak bisa langsung dituang ke corong pipa tremi tersebut.
Adanya pipa tremi tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa mengalami pencampuran dengan air atau lumpur. Karena BJ beton lebih besar dari BJ lumpur maka beton makin lama makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Jadi pada tahapan ini tidak perlu takut dengan air atau lumpur. Gambar foto di bawah menunjukkan air / lumpur mulai terdorong ke atas, lubang mulai digantikan dengan beton segar tadi. Proses pengecoran ini memerlukan supply beton yang continous, jika sampai terjadi setting maka pipa treminya bisa tertanam dibawah dan tidak bisa dicabut. Sedangkan kalau dicabut terlalu dini maka tiang beton bisa tidak continue.




Sumber :  1. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
                2. Laporan Kerja Praktek mahasiswa Universitas Pelita Harapan ( UPH ) 2007
                3. Skripsi Universitas Kristen Petra
                4. Suryolelono K. Basah,1994, Teknik Pondasi Bagian 2, Yogyakarta, NAFIRI
mitra sumber : http://belajar-teknik-sipil.blogspot.com

TIANG PANCANG BETON PRACETAK

SPESIFIKASI TIANG PANCANG BETON PRACETAK
UNTUK PONDASI JEMBATAN, UKURAN (30 x 30, 35 x 35, 40 x 40) CM2
PANJANG 10-20 METER DENGAN BAJA TULANGAN BJ 24 DAN BJ 40
BAB I
DESKRIPSI
1.1. Maksud dan Tujuan
1.1.1. Maksud
Spesifikasi tiang pancang beton pracetak ini dimaksudkan sebagi acuan dan
pegangan dalam membuat pondasi tiang pancang beton untuk pondasi jembatan di
laboratorium dan di lapangan.
1.1.2. Tujuan
Tujuan spesifikasi ini adalah untuk memudahkan bagi perencana dan pelaksana
pembangunan jembatan, sehingga tercapai efisiensi batas ultimit, dengan dengan
kekuatan beton sebesar 25 Mpa (K-250) serta tegangan leleh baja tulangan sebesar
400 Mpa (Bj-40)
1.2. Pengertian
Yang dimaksud dengan :
1)
Jembatan
adalah bangunan pelengkap jalan yang berfungsi sebagai penghubung
dua ujung jalan yang terputus oleh sungai, saluran, lembah selat atau laut, jalan
raya, dan kereta api.
2)
Kepala jembatan
adalah bangunan bawah jembatan yang terletak pada kedua
ujung jembatan, berfungsi sebagai pemikul seluruh beban pada ujung luar batang,
pinggir dan gaya-gaya lainnya, serta melimpah ke pondasi.
3)
Pilar jembatan
adalah bangunan bawah yang terletak di antara kedua kepala
jembatan, berfungsi sebagai pemikul saluran beban pada ujung-ujung bentang dan
gaya-gaya lainnya, serta melimpahkannya ke pondasi.
4)
Pondasi jembatan
adalah bagian dari jembatan yang berfungsi memikul seluruh
beban yang bekerja pada pilar atau kepala jembatan dan gaya-gaya lainnya serta
melimpahkannya ke lapisan tanah pendukung.
5)
Pondasi tiang jembatan
adalah salah satu jenis pondasi yang untuk melimpahkan
seluruh beban pilar atau kepala jembatan dan gaya-gaya lainnya ke lapisan tanah
pendukung menggunkan konstruksi tiang, yang mempunyai ratio panjang dibagi
lebar atau diameter lebih besar dari 10
6)
Tiang pancang beton pracetak
adalah pondasi tiang beton yang dibuat dipabrik
atau dilokasi jembatan, mempunyai dimensi dan mutu tertentu yang pemasangan
dilakukan dengan alat penumbuk, atau alat penekan.
7)
Tiang pancang beton pracetak yang tidak disambung
adalh tiang yang untuk
mencapai kedalaman lapisan pendukung tanpa menggunakan konstruksi
sambungan tiang.
8)
Konstruksi sambungan tiang
adalah konstruksi untuk menghubungkan ujung-
ujung tiang yang akan disambung dan tiang penyambung, sehingga pertemuan
kedua ujung tiang tersebut bersifat monolit.
PERSYARATAN TEKNIS
2.1. Spesifikasi Kualitatif
1) tiang pancang beton yang tercantum dala
m spesifikasi ini dihitung berdasarkan
keadaan batas ultimit.
2) tiang pancang beton pracetak harus kuat memikul beban dan gaya-gaya dalam
arah vertikal dan lateral yaitu akibat :
(1) beban dan gaya-gaya yang bekerja pada pilar atau kepala jembatan.
(2) pemindahan dan pengangkutan.
(3) pemancangan.
(4) deformasi lateral dan vertikal
(5) gaya lateral akibat proses konsolidasi lapisan tanah di bawah timbunan oprit
di belakang kepala jembatan
(6) gaya gesek negatif
(7) gaya tekuk.
2.2. Spesifikasi Kuantitatif
1) Persyaratan bahan
(1) Beton
a) beton yang digunakan untuk tiang pancang
pracetak harus mempunyai kuat
tekan 25 Mpa.
b) agar beton dapat memenuhi persyaratan, setiap pembuatan tiang harus
didasarkan kepada rencana campuran, dengan menggunakann komponen
bahan yang memenuhi ketentuan metode pengujian kuat tekan beton (SNI
03-1974-1990), dan selama pelaksanaan pengecoran beton harus diikuti
dengan pengendaliam mutu.
(2) Baja tulangan
a) baja tulangan utama untuk tiang pancang beton pracetak harus
menggunakan baja ulir dan dengan tegangan leleh minimum 240 Mpa (Bj-
24), bebas dari korosi dan kotoran yang menempel pada baja.
b) baja tulangan lainnya menggunakan baja polos dengan tegangan leleh
minimum 240 Mpa (Bj-40) dan bebas dari korosi dan kotoran yang
menempel pada baja.
c) Untuk menjamin tercapainya mutu baja yang diisyaratkan, sebelum
digunakan harus dilakukan pengujian mutu sesuai dengan SNI 07-2529-
1991 tentang Metode pengujian tarik baja beton.
2) Klasifikasi Tiang
Tiang pancang beton pracetak, dibuat dengan variasi panjang sesuai dengan
tabel 1.
SNI 03-4434-1997
3
Tabel 1 Klasifikasi Tiang Beton Pracetak
Klasifikasi L. Meter
L 10 10,00
L 11 11,00
L 12 12,00
L 13 13,00
L 14 14,00
L 15 15,00
L 16 16,00
L 17 17,00
L 18 18,00
L 19 19,00
L 20 20,00
3) Persyaratan Struktur
(1) struktur tiang
a) Dimensi tiang
Dimensi tiang dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 Dimensi Tiang
Ukuran Tiang
Dimensi Tiang
30 x 30 cm
2
35 x 35 cm
2
40 x 40 cm
2
- Panjang Tiang (L) 10-20 m 10-20 m 10-20 m
- Lebar Tiang (D) 30 cm 35 cm 40 cm
- Tebal selimut beton (a) 45 mm 5 mm 45 mm
- Panjang ujung tiang yang diruncingkan
(L1 = 1,5 D)
45,0 cm 52,50 cm 60,00 cm
- Lebar bagian yang diruncingkan pada
ujung tiang (D1 = 0,25 D)
7,50 cm 8,75 cm 10,00 cm
SNI 03-4434-1997
4
b) Penulangan
Penulangan dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3 Penulangan
Ukuran Tiang
Baja Tulangan BJ. 24 Baja Tulangan BJ. 40
Penulangan
30 x 30
cm
2
35 x 35
cm
2
40 x 40
cm
2
30 x 30
cm
2
35 x 35
cm
2
40 x 40
cm
2
1. Penulangan utama dipasang
menerus sepanjang tiang
dengan menggunakan baja
lebar
10
19
mm
10
22
mm
10
22
mm
10
16
mm
10
19
mm
10
22
mm
2. Penulangan utama disambung
secara tumpang tindih
sepanjang 25 d
475 mm 550 mm 625 mm 400 mm 475 mm 550 mm
3. Sengkang berbentuk spiral segi
empat dengan menggunakan
baja polos dipasang sebagai
berikut :
a. sepanjang 2,00 meter
pada kepala tiang atau
ujung atas tiang
8 mm –
50 mm
8 mm –
50 mm
8 mm –
50 mm
6 mm –
50 mm
6 mm
– 50
mm
6 mm –
50 mm
b. sepanjang 2,00 meter
pada ujung bawah tiang
8 mm –
50 mm
8 mm –
50 mm
8 mm –
50 mm
6 mm –
50 mm
6 mm
– 50
mm
6 mm –
50 mm
c. bagian tengah tiang
8 mm –
80 mm
8 mm –
80 mm
8 mm –
80 mm
6 mm –
80 mm
6 mm
– 80
mm
6 mm –
80 mm
4. Sengkang berbentuk spiral
lingkaran dengan
menggunakan baja polos,
dipasang menerus sepanjang
tiang
8 mm –
50 mm
8 mm –
50 mm
8 mm –
50 mm
6 mm –
50 mm
6 mm
– 50
mm
6 mm –
50 mm
5. Penulangan tambahan di ujung
atas tiang
4
19
mm
4
22
mm
4
25 mm 4
16
mm
4
19
mm
4
22 mm
6. Penulangan tambahan di
bawah tiang
2
19
mm
2
22
mm
2
25 mm 2
16
mm
2
19
mm
2
22 mm
Konfigurasi penulangan tersebut diatas berlaku untuk tiang yang tidak
disambung, yang disambung, dan tiang penyambung.
c) ujung tiang penyambung tidak perlu diruncingkan
d) bentuk, dimensi dan konfigurasi penulangan untuk tiang L 10, L 11, L 12, L
13, L 14, L 15, L 16, L 17, L 18, L 19, dan L 20 masing-masing tercantum
pada gambar 3, 4, 5, 6, 7, 8.
(2) Struktur sambungan
(1) konstruksi sambungan harus bersifa
t monolit, sehingga kuat melimpahkan
gaya-gaya aksial dan lateral serta deformasi yang terjadi pada tiang.
(2) Untuk itu digunakan konstruksi sambungan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
4) Sepatu Tiang
(1) tiang beton pracetak yang akan menembu
s lapisan lensa pasir atau pasir -
kerikil padat, ujung bawahnya harus diperkuat dengan sepatu tiang yang dibuat
dari pelat baja tebal 10 mm.
(2) tegangan leleh minimum pelat baja yang digunakan adalah 300 Mpa (Bj-30)
(3) bentuk sepatu tiang adalah runcing,
dengan dimensi seperti pada gambar 9.
(4) sepatu tiang dipasang langsung pada waktu pembuatan tiang.