Showing posts with label JEMBATAN. Show all posts
Showing posts with label JEMBATAN. Show all posts

RC Box Culvert (RCBC)


RCBC atau bisa juga disebut Reinforced Concrete Box Culvert adalah salah satu produk precast kami yang bisa digunakan sebagai Jembatan (Crossing). Produk ini dapat digunakan untuk segala jenis pembebanan. Bisa difungsikan sebagai jembatan untuk dilewati kendaraan berat (beban jalan kelas 1), bisa pula untuk beban kendaraan ringan. Pilihan ini kami berikan sesuai dengan peruntukan dan permintaan dari pelanggan.

box-culvert-rcbc-lisa-concrete-indonesiaRCBC ini terdiri dari 2 componen utama, yaitu TOP component, dan BOTTOM component. Untuk kesempurnaan dalam penggunaan (setelah dipasang sebagai jembatan), kami menawarkan pula modifikasi TOP component RCBC untuk diberikan konsol pendek sebagai dudukan plat injak. Bila konsol ini tidak diperlukan, kami bisa pula menghilangkannya (sesuai permintaan pelanggan)
Keunggulan dari RCBC ini adalah :
  • Lebih ringan dalam pemasangan (install), karena ada 2 component yang terpisah, sehingga biaya alat install dapat ditekan.
  • Pemasangan lebih mudah dan lebih cepat
Kami menawarkan pula Quick Lay Joint System (Plat besi joint) yang digunakan di dinding dari RCBC, yang bertujuan untuk menyatukan antar component RCBC. Dengan disatukannya antar component RCBC, maka struktur akan lebih kokoh dan kuat terhadap kemungkinan adanya penurunan setempat dari pondasi salah satu RCBC. Bila pondasi dari RCBC ini sudah dapat anda jamin bagus, Quick Lay Joint ini bisa dihilangkan (sesuai permintaan pelanggan).
Ukuran :
Kami menyediakan berbagai macam ukuran dari RCBC Box Culvert dari yang paling kecil (lebar 1m dan tinggi 80 cm) sampai dengan bentang paling besar (yang pernah kami produksi) yang berukuran lebar 8 meter dan tinggi 5.5 meter.

Bila anda ada desain khusus (yg belum pernah kami produksi), baik bentuk, ukuran, dan spesifikasi khusus lainnya, silahkan kontak marketing kami untuk membicarakan lebih lanjut.

Perencanaan Jembatan Tipe Beton

Download Spreadsheet Excel Perencanaan Jembatan Tipe Beton

 Perencanaan jembatan mengikuti Standar Bina Marga (BM-70). Input gaya dan geometri struktur cukup mudah dan sederhana pada lembar perhitungan input data. Output dari program ini adalah dimensi jembatan dan gambar penulangan jembatan. Silahkan jika ingin mendownload Perhitungan struktur atas jembatan beton tipe Balok T  lebar jembatan 5 m, dengan 2 buah gelagar :  Bridge (T-beam).xls

Berikut adalah tampilan screen shoot programnya :



Gratis Program Jembatan Beton Tipe Balok T dan Gelagarnya T-Beam Girder

Sedangkan untuk perhitungan struktur desain gelagar jembatan beton tipe balok-T (T-Beam Girder), yang sesuai tipe jembatan BM-100 Bina Marga. Dimana lebar jalur lalu lintas 7.00 m (atau didesain sesuai kebutuhan), dengan jumlah gelagar 5 buah, atau lebih. Bentang jembatan balok-T sesuai BM-100 adalah 5 m sampai 25 m. Perhitungan tulangan beton menggunakan cara Ultimit. Program perhitungan tersebut dapat anda download disini.


Untuk perhitungan stabilitas dan struktur pilar jembatan tipe beton. Input gaya dan geometri struktur cukup mudah dan sederhana pada lembar perhitungan input data. Output dari program ini adalah dimensi pilar dan gambar penulangan pilar jembatan. File ini saya peroleh dari Mas Arga yang juga telah di publish. Silahkan jika ingin mendownload spreadsheet excel: Pilar Jembatan.xls

Download Program Desain Struktur Pilar Jembatan
Jembatan dengan struktur beton mempunyai beberapa kelemahan, sehingga tentu kita lebih sering menjumpai Jembatan dengan struktur baja, silahkan baca Kelebihan Jembatan dengan Struktur Baja. Semoga bermanfaat...



Traveler Formwork pada proyek Jembatan

Traveler Formwork pada proyek Jembatan

Jembatan Suramadu merupakan jembatan yang dibangun melintasi laut (selat Madura) yang menghubungkan Pulau Jawa (Surabaya) dan Pulau Madura (Kab. Bangkalan).

Struktur jembatan yang panjang serta proses pengerjaannya berada di atas laut dengan arus yang deras maka tidak memungkinkan untuk dikerjakan dengan cara convensional. Maka digunakanlah metode kontruksi sistem kantilever seimbang atau sering disebut balance cantilever, dimana dikerjakan dari masing-masing sisi secara segmental dan bertemu di tengah bentang.


Karena metode ini menggunakan prinsip keseimbangan dan sistem pengecoran cast in situ maka pelaksanaan pengecoran untuk masing-masing segmen box girdernya memerlukan alat bantu. Alat bantu tersebut dinamakan traveler, yaitu alat yang digunakan untuk menopang/menggantung formwork guna pengecoran box girdernya.


Penggunaan form traveler di Indonesia sudah bukan merupakan hal yang baru. Ada beberapa proyek yang telah memberdayakan metode alat bantu ini untuk pelaksanaan konstruksi struktur atasnya, diantaranya adalah Jembatan Setoko-Rempang Batam tahun 2006, serta yang terakhir pada proyek approach bridge Jembatan Suramadu Jawa Timur yang telah diresmikan beberapa waktu lalu.

Formwork (acuan dan perancah) atau bekisting adalah suatu konstruksi pembantu yang bersifat sementara yang merupakan cetakan / mal (beserta pelengkapnya) pada bagian samping dan bawah dari suatu konstruksi beton yang dikehendaki. Traveler formwork berarti bekisting berjalan, bekisting yang difungsikan berulang kali pada pekerjaan segmental, difungsikan sebagai penggantung atau penopang bekisting serta penggerak bekisting untuk pengecoran segmen berikutnya.


Biaya konstruksi acuan (formwork) mungkin sepertiga atau bahkan lebih dari keseluruhan biaya bangunan beton, oleh karena itu desain dan konstruksi formwork diusahakan se-ekonomis mungkin. Selain itu, bagus tidaknya tampak permukaan beton yang sudah dikerjakan serta kecepatan konstruksinya tergantung pada penggunaan konstruksi acuan (formwork) yang digunakan serta pengaturannya agar diperoleh penggunaan yang paling efisien.


Ada beberapa jenis metode pekerjaan traveler formwork, secara garis besar dibagi
menjadi:
- Traveler dengan sistem pergerakan manual
- Traveler dengan sistem pergerakan hidrolis


Dari kedua jenis traveler tersebut mempunyai prinsip pengerjaan yang sama yaitu berfungsi sebagai penopang dan penggerak formwork, yang membedakan ialah sistem gerak travelernya. Traveler CCC digerakan secara manual, yaitu ditarik manual dengan bantuan chain block, sedangkan traveler CIC digerakan secara hidrolis, yaitu dengan menggunakan bantuan alat penggerak hidrolic jack.


sumber: berbagai sumber di internet

menghitung beban struktur jembatan

menghitung beban struktur jembatan

menghitung beban struktur jembatan
BEBAN YANG DIHITUNG DALAM MERENCANAKAN JEMBATAN
Secara umum beban – beban yang dihitung dalam merencanakan jembatan dibagi atas dua yaitu beban primer dan beban sekunder. Beban primer adalah beban utama dalam perhitungan tegangan untuk setipa perencanaan jembatan, sedangkan beban sekunder adalah beban sementara yang mengakibatkan tegangan – tegangan yang relatif kecil daripada tegangan akibat beban primer dan biasanya tergantung dari bentang,bahan,sistem kontruksi,tipe jembatan dan keadaan setempat.
Beban primer jembatan mencakup beban mati,beban hidup dan beban kejut.
1. Beban Mati
Beban mati adalah semua muatan yang berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yang ditinjau, termasuk segala unsur tambahan tetap yang dianggap merupakan satu satuan dengan jembatan (Sumantri, 1989:63). Dalam menentukan besarnya muatan mati harus dipergunakan nilai berat volume untuk bahan-bahan bangunan.
contoh beban mati pada jembatan: berat beton, berat aspal, berat baja, berat pasangan bata, berat plesteran dll.
2. Beban Hidup
Yang termasuk dengan beban hidup adalah beban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan bergerak lalu lintas dan/atau pejalan kaki yang dianggap bekerja pada jembatan. Berdasarkan PPPJJR-1987, halaman 5-7, beban hidup  yang ditinjau terdiri dari :
a.       Beban “T”(Beban lantai kendaraan)
Beban “T” merupakan beban kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda (Dual Wheel Load) sebesar 10 ton, yang bekerja pada seluruh lebar bagian jembatan yang dingunakan untuk lalu lintas kendaraan.
b. Beban “D”(Jalur lalu lintas )
Beban “D” adalah susunan beban pada setiap jalur lalu lintas yang terdiri dari beban garis “P” ton per jalur lalu lintas (P = 12 ton) dan beban terbagi rata “q” ton per meter panjang per jalur sebagai berikut:
q = 2,2 t/m                                                    untuk L < 30 m.
q = 2,2 t/m – {(1,1/60) x (L – 30)} t/m        untuk 30 m < L < 60 m.
q = 1,1{1 + (30/L)}                                      untuk L > 60 m.
Ketentuan penggunaan beban “D” dalam arah melintang jembatan sebagai berikut:
§  Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan < 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) harus dibebankan pada seluruh jembatan.
§  Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan > 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur 5,50 m sedangkan lebar selebihnya dibebani hanya separuh beban “D” (50%).
contoh beban hidup pada jembatan: beban kendaraan yang melintas, beban orang berjalan dll.
3. Beban Kejut
Menurut Anonim (1987:10) beban kejut diperhitungkan pengaruh getaran-getaran dari pengaruh dinamis lainnya., tegangan-tegangan akibat beban garis (P) harus dikalikan dengan koefisien kejut. Sedangkan beban terbagi rata (q) dan beban terpusat (T) tidak dikalikan dengan koefisien kejut. Besarnya koefisien kejut ditentukan dengan rumus:
k = 1 + ((20  / (50+L))
Sedangkan Beban Sekunder terdiri dari beban angin,gaya rem, dan gaya akibat perbedaan suhu.
1.      Beban Angin
Pengaruh tekanan angin bekerja dalam arah horizontal sebesar 100 kg/cm2. Dalam memperhitungkan jumlah luas bagian jembatan pada setiap sisi digunakan jumlah luas bagian jembata pada setiap sisi digunakan ketentuan sebagai berikut:
  • Untuk jmbatan berdinding penuh diambil sebesar 100% terhadap luas sisi jembatan
  • Untuk jembatan rangka diambil sebesar 30% terhadap luas sisi jembatan.
2.      Beban Gaya Rem
Gaya ini bekerja dalam arah memanjang jembatan, akibat gaya rem dan traksi ditinjau untuk kedua jurusan lalu lintas. pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem sebesar 5% dari muatan D tanpa koefisien kejut yang memenuhi semua jalur lalu lintas yang ada dalam satu jurusan.
3.      Gaya Akibat Perbedaan Suhu
Perbedaan suhu harus ditetapkan sesuai dengan keadaan setempat. Diasumsikan untuk baja sebesar C dan beton 10. Peninjauan khusus terhadap timbulnya tegangan-tegangan akibat perbedaan suhu yang ada antara bagian-bagian jembatan dengan bahan yang berbeda.
4. Beban Gempa
untuk pembangunan jembatan pada daerah yang dipengaruhi oleh gempa, maka beban gempa juga diperhitungkan dalam perencanaan struktur jembatan
5. Beban angin
beban angin dihitung pada daerah konstruksi jembatan yang harus menahan beban angin.


Mandor, Tukang, Pemborong, Bangunan, KONTRAKTOR PELAKSANA, PROFESIONAL MUDA, DI, SURAKARTA, SOLO, SRAGEN, KARANGANYAR, BOYOLALI, SALATIGA, YOGYAKARTA, JOGYA, Klaten, SEMARANG, KAMI BERGERAK DALAM PEGADAAN BARANG & JASA : PAGAR PANEL BETON, GYPSUM, RANGKA ATAP BAJA RINGAN, PAVING, WATERPROOFING, WALLPAPER DINDING, JASA TUKANG/MANDOR/PEMBORONG BANGUNAN, PROFESIONAL.. ANDA UNTUNG, KAMI UNTUNG KERJASAMA YANG BAIK DAN TANGUNG JAWAB

Konstruksi jembatan suramadu

Konstruksi jembatan suramadu

Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan.

Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura.
Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga pondasi pipa baja berdiameter 60 cm.
Jembatan penghubung atau approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter.
Jembatan penghubung ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter 180 cm.
Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter.
Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter.
Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut.